Mahasiswa ITB Vinus Bogor Ajarkan Ibu Rumah Tangga Bangun Usaha Digital Lewat HP

Mahasiswa ITB Vinus Bogor Ajarkan Ibu Rumah Tangga Bangun Usaha Digital Lewat HP
PendidikanAplikasi Pendidikan & Belajar

Mahasiswa ITB Vinus Bogor Ajarkan Ibu Rumah Tangga Bangun Usaha Digital Lewat HP

Thufeil Azfa Huwaiza
25 Juli 2026

Mahasiswa ITB Vinus Bogor menggelar pelatihan literasi digital bagi ibu rumah tangga di Cibungbulang, mengajarkan cara membangun usaha rumahan dan pemasaran digital hanya dengan telepon genggam.


Telepon genggam tak lagi sekadar menjadi alat komunikasi. Di tangan pelaku usaha, perangkat yang hampir dimiliki setiap orang itu dapat berubah menjadi "toko" sekaligus sarana pemasaran. Gagasan tersebut diperkenalkan mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Visi Nusantara Bogor melalui pelatihan kewirausahaan digital bagi ibu rumah tangga di Kampung Dukuh Ilir RT 02/RW 03, Desa Dukuh, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada Selasa, 21 Juli 2026.

Pelatihan bertajuk "Langkah Praktis Memulai dan Mengembangkan Usaha dari Rumah via HP" itu menjadi bagian dari Ujian Akhir Semester mata kuliah Literasi Digital dan Kemanusiaan. Selama beberapa jam, peserta diajak memahami cara memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha rumahan dengan modal yang relatif terjangkau.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua RW 03 M. Nadi Junaedi, pengurus RT, serta warga sekitar. Bagi sebagian peserta, materi yang disampaikan menjadi pengalaman pertama mengenal strategi pemasaran digital secara langsung.

Acara dipandu oleh Mochamad Ramdani dan Suci Salsabila selaku pembawa acara. Setelah pembukaan, Ketua RW 03 M. Nadi Junaedi menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa yang memilih turun langsung berbagi pengetahuan kepada masyarakat.

Menurutnya, kemampuan memanfaatkan teknologi digital kini menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan. Literasi digital dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus membantu masyarakat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

"Terima kasih kepada mahasiswa ITB Vinus yang sudah berbagi ilmu di sini. Harapan saya, ibu-ibu bisa lebih memahami cara memanfaatkan HP untuk berjualan. Kalau kita tidak paham digital, kita mudah tertinggal. Sebaliknya, kalau kita menguasainya, peluang usaha akan semakin terbuka," katanya.

Materi kemudian dibuka oleh Thufeil Azfa Huwaiza yang mengajak peserta melihat perubahan cara berwirausaha di era digital. Ia menjelaskan bahwa membangun usaha kini tidak harus diawali dengan membuka toko atau menyediakan modal besar. Selama memiliki kemauan belajar dan sebuah telepon genggam, peluang untuk memulai usaha tetap terbuka.

Ia juga menekankan pentingnya mengenali potensi diri sebelum mengembangkan bisnis. Sebagai contoh, salah satu peserta bernama Ibu Tati, yang telah memproduksi rengginang, disarankan untuk terlebih dahulu memperkuat produk utamanya sebelum menambah jenis usaha lain agar identitas produknya lebih mudah dikenal pasar.

Pembahasan berikutnya disampaikan Tanto yang mengulas pentingnya membangun personal branding. Menurutnya, pelaku UMKM perlu memiliki identitas yang konsisten agar produk lebih mudah diingat konsumen.

Ia mencontohkan, apabila seseorang menjual combro, maka konten yang dibagikan di media sosial sebaiknya tetap berkaitan dengan produk tersebut, mulai dari proses pembuatan, aktivitas produksi, hingga penyajian kepada pelanggan. Konsistensi semacam itu dinilai mampu meningkatkan kepercayaan sekaligus memperkuat citra usaha.

Sementara itu, Muhammad Rafly mengingatkan peserta agar tidak mengabaikan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Ia menjelaskan masih banyak pelaku usaha yang menganggap produknya laris, padahal keuntungan yang diperoleh belum tentu sesuai karena biaya produksi belum dihitung secara menyeluruh.

Menurutnya, seluruh komponen biaya seperti bahan baku, kemasan, gas, listrik, hingga biaya transportasi harus masuk dalam perhitungan sebelum menentukan harga jual. Dengan begitu, pelaku usaha dapat menetapkan harga yang tetap bersaing tanpa mengorbankan keuntungan.

Suasana pelatihan berubah semakin interaktif ketika Rista Handayani mengajak peserta langsung mempraktikkan teknik fotografi produk menggunakan telepon genggam. Ia memperlihatkan cara mengambil gambar sederhana yang mampu menarik perhatian calon pembeli, sekaligus menjelaskan pentingnya menyusun caption yang efektif sebagai pendukung promosi di media sosial.

Sejumlah peserta tampak bergantian memotret produk yang telah disiapkan panitia. Diskusi berlangsung santai. Sesekali gelak tawa terdengar ketika peserta mencoba menerapkan teknik pengambilan gambar yang baru dipelajari.

Antusiasme peserta berlanjut dalam sesi kuis interaktif. Pertanyaan seputar materi pelatihan dijawab dengan penuh semangat, sementara peserta yang berhasil memberikan jawaban memperoleh hadiah sederhana dari panitia.

Tak hanya membahas kewirausahaan, kegiatan juga dilengkapi layanan pemeriksaan tekanan darah gratis yang dipandu Ayu Aulia Maharani. Selain memeriksa kondisi kesehatan peserta, ia turut memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sebagai penunjang produktivitas dalam menjalankan usaha maupun aktivitas sehari-hari.

Pelatihan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta. Bagi mahasiswa ITB Visi Nusantara Bogor, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari tugas akademik, tetapi juga bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui peningkatan literasi digital dan penguatan kapasitas kewirausahaan bagi ibu rumah tangga. Harapannya, pengetahuan yang dibagikan dalam pelatihan ini dapat menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak pelaku UMKM yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya dari rumah.

Kata Kunci

mahasiswa ITB Vinus Bogorpelatihan UMKMliterasi digitalusaha digitalusaha dari HP